Tata Cara Penggunaan Huruf Kapital/Miring/Tebal pada Tulisan Ilmiah


Huruf secara bahasa dapat diartikan sebagai tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad yang melambangkan bunyi bahasa. Berikut tata cara penulisan huruf kapital, huruf miring dan huruf tebal pada tulisan ilmiah.

Tata Cara Penggunaan Huruf Kapital/Miring/Tebal pada Tulisan Ilmiah
Aturan penulisan huruf kapital, miring, dan tebal

1. Huruf Kapital (sering disebut juga dengan huruf besar)


a. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada awal kalimat.
Contoh: Andaikan cinta datang pada saat yang tepat.

b. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung.
Contoh: Anggi berkata “Apabila saya sukses, itu adalah hasil kerja keras dan doa dari orangtua saya.”

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kita suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh: Saya bangga memiliki agama Islam karena Allah.

d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama untuk nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh: Imam Malik, Kiai Haji Ahmad Dahlan, Nabi Muhammad Saw

Catatan: huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang, huruf kapital tidak diberlakukan.
Contoh: Ibu saya kemaren telah resmi menjadi menteri.

e. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.
Contoh: Menteri Sultan Syahrin, Gubernur Sulawesi Utara

Catatan 1: Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.
Contoh: Kebijakan baru telah ditetapkan oleh Kementerian Ekonomi.

Catatan 2: Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.
Contoh: Ada banyak menteri yang menghadiri pertemuan pada waktu lalu.

f. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Contoh: Releventa Adinanta, Sarwendah, Mustika Sinantia, Jenittika Monera

Catatan 1: Huruf kapital tidak digunakan sebagai huruf pertama seperti pada: de, van, dan der (dalam bahasa Belanda), von (dalam bahasa Jerman), atau da (dalam bahasa Portugal).
Contoh: H. van der vaart, Pedro da silva.

Catatan 2: Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.
Contoh: Novera binti Gunawan

Catatan 3: Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Contoh: N (Newton)

Catatan 4: Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Contoh: 20 volt, 30 ampera

g. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh: bahasa Melayu, suku Batak

Catatan: Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.
Contoh: memelayukan, kebarat-baratan

h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari dan hari raya.
Contoh: tahun Hijriah, bulan Ramadhan, hari Sabtu

Catatan 1: Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur-unsur peristiwa sejarah.
Contoh: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Hari Tani.

Catatan 2: huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.
Contoh: Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

i. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi.
Contoh: Bandung, Eropa, Asia Tenggara

Catatan 1: Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur-unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.
Contoh: Gunung Merapi, Teluk Bayur

Catatan 2: Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.
Contoh: kerajinan Manding, tari Minang, asinan Bogor

Catatan 3: Huruf kapital tidak digunakan sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.
Contoh: berenang di teluk, menerjang laut

Catatan 4: Huruf kapital tidak digunakan sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.
Contoh: apel malang, garam madura

j. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh atau dan untuk.
Contoh: Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1990

Catatan 1: Huruf kapital tidak digunakan sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan anam dokumentasi resmi.
Contoh: Kerjasama antara pemerintah dan rakyat menjadi sebuah republik.

Catatan 2: Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan dan dokumentasi resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.
Contoh: Penenggelaman kapal di perbatasan sudah diputuskan oleh Menteri.

k. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumentasi resmi, dan judul karangan.
Contoh: Rancangan Undang-Undang Kelautan, Dasar-Dasar Ilmu Ekonomi

l. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Contoh: Deni telah membaca buku Dasar-Dasar Ilmu Perikanan.

m. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
Contoh: S.E. (sarjana ekonomi), Sdr.(saudara)

Catatan: Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.

n. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.
Contoh: Ayah bertanya, “Kapan kamu wisuda, Nak?”

Catatan: huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan dan penyapaan.
Contoh: Kita hendaknya menghargai kakak dan adik kita.

o. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.
Contoh: Siapa nama Anda?

p. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu.

2. Huruf Miring


a. Huruf miring dalam tulisan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Contoh: surat kabar Kedaulatan Rakyat

b. Huruf miring dalam tulisan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata atau kelompok kata.
Contoh: Artikel ini tidak mengandung unsur SARA.

c. Huruf miring dalam tulisan digunakan untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Contoh: Nama ilmiah buah manggis adalah Carcinia mangostana.

Catatan: Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring harus digarisbawahi.

3. Huruf Tebal


Huruf tebal dalam tulisan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.
Contoh:
Judul: PELESTARIAN BUDAYA JAWA
Bab: BAB 1 PENDAHULUAN
Bagian bab: 1.1 Latar Belakang Masalah

Daftar, indeks, dan lampiran:
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMBANG
DAFTAR PUSTAKA
INDEKS
LAMPIRAN

Baca Juga:

Apa Pendapat Anda?