Apa itu Kreativitas? Inilah Cara Menjadi Orang Kreatif


Kecerdasan kreativitas adalah potensi seseorang untuk memunculkan penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu dan teknologi serta semua bidang dalam usaha lainnya (Daniel Goleman, 1996). Menurut Mihaly Csikszentmihalyi, seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif, kesalahpahaman dalam menghadapi mereka sering muncul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibandingkan orang lain. 

Jika kepribadian manusia biasa pada umumnya memiliki kecenderungan ke arah tertentu, maka kepribadian orang-orang kreatif dari sifat-sifat berlawanan yang terus-menerus “bertarung”, tetapi disisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh.

Perbedaan kecerdasan dengan Kreativitas

Sebagian orang mungkin belum bisa membedakan antara kecerdasan dengan kreativitas, berikut perbedaannya yang paling dasar:
a. Kecerdasan adalah kemampuan mengelola kepintaran. Orang-orang yang sukses kadang orang tidak terlalu pintar, akan tetapi bisa mengelola orang-orang pintar. Kecerdasan membuat anda tahu siapa orang pintar yang cocok mengerjakan jenis pekerjaan tertentu. Kecerdasan membuat anda bisa mengambil keuntungan dari kombinasi kepintaran.
b. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat perbedaan. Orang-orang kreatif adalah orang yang melihat hal yang sama tapi berpikir dengan cara yang berbeda. Kreativitas menghasilkan perbedaan dan orang yang kreatif bisa stand out of the crowd, tampil diantara kerumunan orang. Perbedaan membuat peluang baru terbuka.

Apa itu Kreativitas? Inilah Cara Menjadi Orang Kreatif

Sifat-sifat kontradiktif orang-orang kreatif:

1. Orang kreatif memiliki tingkat energi yang lebih tinggi, tetapi mereka juga membutuhkan waktu lama untuk beristirahat.
2. Mereka tahan berkonsentrasi dalam waktu yang lama tanpa merasa jenuh, lapar, atau gatal-gatal karena belum mandi. Tapi begitu sudah selesai, mereka juga bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka. Dimata orang luar, mereka menjadi terlihat seperti orang termalas di dunia.
3. Orang-orang kreatif merupakan orang yang cerdas, tapi di sisi lain mereka tidak segan-segan untuk berpikir ala orang bodoh dalam memandang persoalan. Ketimbang terpaku sejak awal pada satu macam penyelesaian (cara berpikir yang benar), mereka memulai pemecahan masalah dengan berpikir divergen. Mengeluarkan sebanyak mungkin dan seberagam ide yang terpikir, tak peduli betapa bodoh kedengarannya.
4. Orang-orang kreatif adalah orang yang payful, tapi mereka juga penuh disiplin dan ketekunan. Tidak seperti dewasa lainnya yang melihat dunia dengan kacama super-serius, orang-orang kreatif memandang bidang peminatan mereka seperti taman ria. Mereka melakukan pekerjaannya dengan begitu antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras mewujudkan “mainan” tersebut.
5. Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tidak lupa untuk tetap kembali ke realitas. Mereka mampu menelurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh miliyaran orang, tapi yang membut mereka bukan sekedar bermimpi di siang bolong adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan dengan kenyataan sehingga orang lain bisa ikut mengerti dan menikmati.
6. Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert. Pada kebanyakan orang, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi setara pada orang-orang kreatif. Mereka menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.
7. Orang-orang kreatif biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaiannya. Mereka sadar bahwa ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan hasil olahan imajinasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan tokoh-tokoh kreatif yang menjadi panutan mereka. mereka juga fokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini sehingga prestasi di masa lalu tidak begitu berarti bagi mereka.
8. Orang-orang kreatif adalah androgini: mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka. laki-laki kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibandingkan laki-laki yang tidak begitu kreatif. Sementara perempuan kreatif juga lebih dominan dan “keras” dibandingkan perempuan pada umumnya.
9. Orang-orang kreatif adalah “pemberontak”, tetapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama. Tentu suit menyelamatkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru, tetapi orang-orang kreatif tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada. Ada unsur “perbaikan” atau “peningkatan” yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasarnya untuk bisa menerobosnya.
10. Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan. Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tetapi juga membuat mereka sering gelisah bahkan menderita. Sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya, atau pencapaian yang tidak dihargai sebagaimana mestinya, hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.

4 Tahapan Proses Kreatif:


Kecerdasan kreatif berlangsung mengikuti tahapan atau proses dalam kehidupan. Tidak mudah mengidentifikasi secara persis pada tahap manakah suatu proses kreatif itu sedang berlangsung, yang dapat diamati adalah gejala berupa perilaku yang ditampilkan oleh individu. Wallas (Solso, 1991) mengemukakan empat tahapan proses kreatif yaitu:

1. Persiapan (Preparation). 

Pada tahap ini, individu berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Individu mencoba memikirkan berbagai alternatif pemecahan masalah terhadap masalah yang dihadapi. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, individu berusaha menjajaki berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah. Namun pada tahap ini belum ada arah yang tetap meskipun sudah mampu mengeksplorasi berbagai alternatif pemecahan masalah. Pada tahap ini masih amat diperlukan perkembangan kemampuan divergen.

2. Inkubasi (Incubation). 

Pada tahap ini, proses pemecahan masalah “dierami”, dalam alam pra sadar. Individu seolah-olah melepaskan diri untuk sementara waktu dari masalah yang dihadapinya, dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan mengedepankannya dalam alam prasadar. Proses inkubsi ini dapat berlangsung lama (berhari-hari atua bahkan bertahun-tahun) dan juga bisa sebentar (beberapa jam saja) kemudian timbul inspirasi atau gagasan untuk pemecahan masalah.

3. Iluminasi (Ilmunation). 

Tahap ini sering disebut sebagai tahap timbulnya insight. Pada tahap ini sudah dapat timbul inspirasi atau gagasan-gagasan baru serta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan-gagasan baru. Ini timbul setelah diendapkan dalam waktu yang lama atau bisa juga sebentar pada tahap inkubasi.

4. Verifikasi (verification). 

Pada tahap ini, gagasan yang telah timbul dievakuasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas. Pada tahap ini pemikiran divergen harus diikuti dengan pemikiran konvergen. Pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus diikuti oleh kritik. Filsafat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberanian harus diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas.

Jadi, pada tahap preparation, incubation, dan ilumination adalah proses berpikir divergen yang menonjol, maka dalam tahap verification yang lebih menonojol adalah proses berpikir konvergen.

4 Tipe Kecerdasan Kreatif Individu:

Alan J. Rowe dalam bukunya “Creative Intelligence” menyatakan bahwa setiap orang memiliki kecerdasan kreatif, namun pada tipe yang berbeda-beda. Rowe membagi kecerdasan kreatif dalam empat tipe, yaitu:

1. Intuitif

Tipe kreativitas intuitif banyak dimiliki oleh pakar manajer, aktor dan politikus. Orang-orang yang memiliki kreativitas intuitif biasanya berfokus pada hasil dan menggunakan pengalaman masa lalu dalam memunculkan gagasan-gagasan.

2. Inovatif

Tipe krativitas inovatif dimiliki oleh ilmuwan, insinyur, dan penemu. Orang-orang biasanya menekankan pada daya cipta eskperimen dan sistematika.

3. Imajinatif

Tipe kreativitas imajinatif banyak ditemui pada seniman, musikus dan penulis. Orang-orang tipe ini biasanya banyak mengambil resiko dengan melewati batas-batas kebiasaan dan tradisi. Mereka lebih berpikiran terbuka humoris.

4. Inspiratif

Tipe kreativitas inspiratif banyak ditemui pada pendidik, penceramah, dan penulis. Orang-orang tipe ini biasanya memiliki sudut pandang yang positif, mampu membaca kebutuhan orang lain dan menggerakan perubahan.

Upaya Peningkatan Kreativitas menurut Rowe:

Rowe juga mengatakan bahwa setiap orang dengan tipe kreativitas berlainan akan merespon masalah dengan cara berbeda pula. Oleh karena itu, Rowe menganjurkan upaya peningkatan kreativitas:

1. Mengenal potensi kecerdasan kreatif kita terlebih dahulu sebelum kita meningkatkan kecerdasan kreatif kita.
2. Terus membuka pikiran kita terhadap setiap gagasan-gagasan baru. Penjelajahan pikiran memungkinkan kita untuk mendapatkan banyak gagasan-gagasan baru. Cara terbaik untuk mendapatkan gagasan cemerlang adalah dengan mengumpulkan banyak gagasan.
3. Terbiasa keluar dari kebiasaan dan tradisi agar senantiasa menemukan hal-hal baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kemapanan dalam cara berpikir dan bersikap akan menyebabkan kebekuan kreativitas. Oleh karena itu, kita harus berusaha mendobrak dan keluar dari zona nyaman.
4. Senantiasa menambah wawasan. Proses kreatif bergantung pada wawasan pengetahuan dan pengalaman kita. Jika wawasan kita luas, maka kemungkinan gagasan-gagasan kreatif yang muncul akan lebih banyak. Jika tidak, makan akan terjadi sebaliknya.
5. Selalu menggunakan imajinasi. Otak manusia senang menemukan pola, yaitu menghubungkan satu hal dengan hal lain yang berbeda untuk menemukan makna. Pada saat itulah diperlukan imajinasi agar segala sesuatu terlihat menarik dan menakjubkan.
6. Melakukan relaksasi sesering mungkin dan mengisi sumber-sumber inspirasi kita. Kejenuhan akan membuat kebekuan. Oleh karena itu, relaksasi membuat kita agar segar kembali. Perasaan yang tenang, senang, dan gembira dapat mempermudah munculnya gagasan-gagasan cemerlang baru.
7. Daniel Goleman dalam “The Creative Spirit” menganjurkan kita untuk juga menciptakan komunitas kreatif. Sebab manusia saling bergantung satu dengan yang lain. Komunitas juga dapat mendorong kita agar lebih kreatif lagi dalam kehidupan ini.

Memunculkan Kreativitas dalam Belajar


Kreativitas juga diperlukan dalam proses belajar. Berpikir kreatif akan mempermudah manusia untuk menyerap dan menyimpan informasi yang didapatkan dalam proses belajar itu sendiri. Hal ini juga mendorong untuk memahami masalah dengan cepat dan menemukan gagasan-gagasan yang bersifat solutif dengan cara yang tepat. Banyak metode pembelajaran yang menerapkan berpikir kreatif dalam proses belajar.

Untuk mencapai keberhasilan perlu pembelajaran dan pelatihan intensif bagaimana menggunakan kekuatan bawah sadar tersebut, dengan mengaktifkan “Nur Ilahi” untuk mendapatkan imajinasi yang kuat, agar kreativitas selalu muncul saat dibutuhkan, membangun prestasi dan citra yang membanggakan. SDM sebagai pelaksana suatu profesi dengan tingkat kecerdasan kreativitas (CQ) yang tinggi, adalah mereka yang kreatif, mampu mencari dan menciptakan terobosan-terobosan dalam membatasi berbagai kendala atau permasalahan yang muncul dalam lembaga-lembaga profesi yang mereka geluti. 

Seorang pelaksana profesi yang ingin mencapai nilai-nilai profesional, haruslah mempunyai CQ yang tinggi, yaitu mampu menghasilkan ide-ide baru (orisinil) dalam meningkatkan daya saing dalam dunia kerjanya dan lebih luas lagi daya saing di era globalisasi. Seorang pelaksana profesi haruslah bersikap fleksibilitas, komunikatif dan aspiratif, serta tidak dapat diam, selalu menginginkan perubahan-perubahan kearah kehidupan yang lebih baik, reformatif dan tidak statis.

Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater, mengemukakan bahwa SDM dengan CQ yang tinggi mampu merubah bentuk yaitu:
1. Dari suatu ancaman (Threat) menjadi tantangan (Challenge).
2. Dari Tantangan menjadi Peluang (Opportunity).
Daya kreativitas tipe ini dapat membangkitkan semangat, percaya diri (Self Confidence) dan optimisme masyarakat dan bangsa untuk menghadapi masa depan yang lebih baik, daya kreativitasnya bersifat rasional, tidak sekedar angan-angan belaka (Wish Full Thinking), dan dapat ti aplikasi serta diimplementasikan.

Menumbuhkan Kecerdasan Kreativitas

Manusia yang menjadi lebih kreatif akan menjadi lebih terbuka pikirannya terhadap imajinasinya, gagasannya sendiri maupun orang lain. sekalipun beberapa pengamat yang memiliki rasa humor mereasa bahwa kebutuhan manusia untuk menciptakan berasal dari keinginan untuk “hidup di luar kemampuan mereka”, namun peneliti mengungkapkan bahwa manusia berkreasi adalah karena adanya kebutuhan dasar, seperti: keamanan, cinta dan penghargaan. 

Mereka juga termotivasi untuk berkreasi oleh lingkungannya dan manfaat dari berkreasi seperti hidup yang lebih menyenangkan, kepercayaan diri yang lebih besar, kegembiraan hidup dan menyenangkan, kepercayaan diri yang lebih besar, kegembiraan hidup dan kemungkinan untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Kebiasaan, waktu, dibanjiri masalah, dan tidak ada masalah, takut gagal, kebutuhan akan sebuah jawaban sekarang, kegiatan mental yang sulit diarahkan, takut bersenang-senang, kritik orang lain.

Beberapa cara memunculkan gagasan kreatif:

a. Kuantitas gagasan

Teknik-teknik kreatif dalam berbagai tingkatan keseluruhannya bersandar pada pengembangan pertama. Sejumlah gagasan sebagai suatu cara untuk memperoleh gagasan yang baik dan kreatif. Akan tetapi, bila masalahnya besar dimana kita ingin mendapatkan pemecahan baru dan orisinil maka kita membutuhkan banyak gagasan untuk dipilih.

b. Teknik brainstorming

Merupakan cara yang terbanyak digunakan, tetapi juga merupakan teknik pemecahan kreatif yang tidak banyak dipahami. Teknik ini cenderung menghasilkan gagasan baru yang orisinil untuk menambah jumlah gagasan konvensional yang ada.

c. Sinektik

Suatu metode atau proses yang menggunakan metafora dan analogi untuk menghasilkan gagasan kreatif atau wawasan segar ke dalam permasalahaa, maka proses sinektik membuat yang asing menjadi akrab dan sebaliknya.

d. Memfokuskan Tujuan

Membuat seolah-olah apa yang diinginkan akan terjadi besok, telah terjadi saat ini dengan melakukan visualisasi yang kuat. Apabila proses itu dilakukan secara berulang-ulang, maka pikiran anda akan terpusat ke arah tujuan yang dimaksud dan terjadilah proses auto sugesti ke dalam diri maupun keluar.

Harmonisiasi Pilar Kecerdasan

Menurut Daniel Goleman (Emotional Intelligence – 1996), orang-orang yang mempunyai IQ tinggi tetapi EQ rendah cenderung mengalami kegagalan yang lebih besar dibandingkan dengan yang IQ-nya rata-rata tetapi EQ-nya tinggi. Artinya, bahwa penggunaan EQ atau olahrasa justru menjadi hal yang sangat penting, dimana menurut Goleman dalam dunia kerja, yang berperan dalam kesuksesan karir seseorang adalah 85% EQ dan 15% IQ. Selain IQ dan EQ, ternyata ada beberapa macam kecerdasan lainnya, kecerdasan manusia tersebut yaitu: IQ, EQ, SQ, AQ, dan CQ.


(Referensi:)
Csikszentmihalyi, Mihaly. 1996. Creativity, Flow and the Psychology of Discovery and Invention. New York: HarperCollins Publ. Inc.
Goleman, Daniel. 1996. Emotional Intelligence : Mengapa EI lebih penting dari pada IQ. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Rowe, Alan J. 2004. Creative Intelligence: Membangkitkan Inovasi Dalam Diri dan Organisasi Anda. Bandung: Kaifa.
Goleman, Daniel. 2005, “The Creative Spirit : Nyalakan Jiwa Kreatifmu di sekolah, tempat Kerja, dan Komunitas”, Penerjemah Yuliani Liputo, Cetakan I, Juni, MLC, Bandung.

Artikel Terbaru:

Apa Pendapat Anda?