Pengajar Perlu Menerapkan Cara Mengajar yang Baik! Guru dan Dosen


Mengajar merupakan kegiatan membimbing pelajar untuk mengalami proses belajar. mengajar yang efektif adalah mengajar yang dapat membawa belajar pelajar tersebut yang lebih efektif. Dalam hal ini, belajar diartikan sebagai kegiatan mencari, menemukan dan melihat pokok permasalahan. Lalu mereka berusaha memecahkan masalah termasuk pendapat bahwa bila seseorang memiliki motor skill atau mampu menciptakan puisi atau sebagainya, maka itu artinya telah mampu menghasilkan masalah dan menemukan kesimpulan.

Proses mengajar merupakan upaya untuk mengembangkan potensi/kemampuan siswa sehingga tercipta hubungan emosional yang baik antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa dan siswa dengan orang lain. Mengembangkan sikap dan perilaku yang demokratis dan menumbuhkan kegiatan belajar pelajar. Untuk dapat mengembangkan kemampuan tersebut seorang pengajar dituntut untuk menggunakan pendekatan yang memadai dalam proses pembelajaran.

Pengajar Perlu Menerapkan Cara Mengajar yang Baik! Guru dan Dosen


Pengajar mempunyai peranan sangat penting, mereka harus mampu menguasai kompetensi yang sudah tercantum dalam undang–undang yang mengatur tentang sistem pendidikan. pengajar bertugas memberi pengarahan dan membimbing pengajar serta menjadi orang tuanya jika berada di lembaga pendidikan.

Mengajar merupakan salah satu komponen dari kompetensi-kompetensi pengajar. Setiap pengajar harus menguasainya serta terampil melaksanakan mengajar tersebut. masalah mengajar telah menjadi persoalan para ahli pendidikan sejak dahulu sampai sekarang. Pengertian mengajar terus mengalami perkembangan. Pendapat yang dilontarkan oleh para pendidik ialah untuk mendapatkan jawaban tentang apakah mengajar itu?. untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut, mungkin kita perlu mengemukakan beberapa teori tentang mengajar.

Ada beberapa macam definisi yang bisa digunakan untuk memahami mengajar, yaitu.


Pertama, definisi lama, mengatakan mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik. Atau katakanlah sebagai usaha mewariskan kebudayaan masyarakat pada generasi berikutnya sebagai generasi penerus.

Kedua, definisi dari DeQueliy dan Gazali, mengatakan mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat. Dalam hal ini pengertian waktu yang singkat sangat penting. Selain itu perbedaan antara individu merupakan faktor penting yang harus diperhatikan.

Ketiga, definisi negara maju, mengatakan mengajar adalah bimbingan kepada peserta didik dalam proses belajar. definisi ini menunjukan bahwa yang aktif adalah siswa, yang mengalami proses belajar.

Keempat, definisi Kilpatrik, menunjukan definisi mengajar yang tegas dengan dasar pemikiran pada gambaran perjuangan hidup umat manusia. Dengan menggunakan metode “problem solving” anak, dapat mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam hidupnya.

Kelima, definisi Alvin W. Howard, mengatakan mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill, attitude, ideals, apreciations, dan knowledge.

Keenam. Definisi A. Morrison D.MC. Intyre mengatakan mengajar adalah aktivitas personal yang unik. Dalam mengajar dapat membuat kesimpulan umum yang tidak berguna, keberhasilan dan kejatuhannya samar-samar, dan sukar diketahui juga berlangsungnya teknik belajar yang tidak tepat untuk dijelaskan. Kemungkinan lain yang dapat diamati adalah memberikan model teori dan teknik assemen yang sesuai, dan banyak aspek mengajar yang dilukiskan dengan cara yang dibimbing oleh hal-hal yang praktis, pribadi pengajar lebih banyak bicara.

Ketujuh, definisi John. R Pancella, mengatakan mengajar dapat dilukiskan sebagai membuat keputusan dalam interaksi dan hasil dari keputusan pengajar adalah jawaban siswa atau sekelompok siswa kepada siap pengajar berinteraksi.

Kedelapan, definisi Mursell, mengatakan mengajar digambarkan sebagai mengorganisasikan belajar, sehingga dengan mengorganisasikan itu, belajar berarti atau bermakna bagi siswanya. Belajar adalah berarti dalam keseimbangan dengan keadaan mereka, sehingga tugas mereka adalah memahami hubungan pengetahuan itu sebagai kesatuan. Dalam hal ini pengajar hanya organisator.

Kesembilan, definisi, Waini Rasyidin mengatakan mengajar yang dipentingkan adalah adanya partisipasi pengajar dan peserta didik satu sama lain. Pengajar merupakan koordinator, yang melakukan aktivitas dalam interaksi sedemikian rupa, sehingga peserta didik belajar seperti apa yang diharapkan bersama.

Prinsip Mengajar Menurut Mursell


Pertama, konteks. Dalam belajar sebagian besar tergantung pada konteks belajar itu sendiri. Situasi problematis yang mencakup tugas untuk belajar hendaknya dinyatakan dalam kerangka konteks, yang dianggap penting dan memaksa bagi pelajar dan melibatkannya menjadi peserta didik yang aktif, justru kerena tujuannya sendiri. Konteks tersebut hendaknya juga lebih konkret, mudah ditiru dan dilaksanakan dengan teratur, yang memberikan kemungkinan seluas-luasnya untuk bereksperimentasi, bereksplorasi dan menentukan serta mengarah pada penguasaan melalui pengertian dan pemahaman serta yang memungkinkan transfer.
Ciri-ciri konteks yang baik yaitu, dapat membuat pelajar menjadi lawan berinteraksi secara dinamis dan kuat. Lalu, konteks tersebut terdiri dari pengalaman yang aktual dan konkret untuk memahami sesuatu pengertian sepenuhnya dan sebenarnya. Selanjutnya. Pengalaman konkret dan dinamis tersebut merupakan alat untuk menyusun pengertian yang bersifat sederhana sehingga pengalaman itu dapat ditiru untuk diulang.
Kedua, fokus. Dalam proses belajar perlu diorganisasikan bahan yang penting artinya. Mereka harus menjumpai kunci dan pembuktian yang diperlukan. Pengajaran akan berhasil degan penggunaan fokalisasi, sebab tanpanya pengajaran tidak akan mungkin efektif mutunya.

Ketiga, sosialisasi. Dalam proses belajar pelajar melatih bekerjasama dalam kelompok berdiskusi. Mereka bertanggung jawab bersama dalam proses memecahkan masalah. Timbulnya pertanyaan, saran, dan komentar mendorong mereka untuk berfikir lebih lanjut dan berusaha memperbaiki kekurangannya.
Ciri-ciri sosialisasi yang baik mempunyai beberapa hal seperti fasilitas sosial, perangsang, dan kelompok demokratis.
Keempat, individualisme. Dalam mengorganisasikan belajar mengajar, pengajar memperhatikan taraf kesanggupan peserta didik dan merangsangnya untuk menentukan bagi dirinya sendiri apa yang dapat dilakukan sebaik-baiknya. Belajar dengan penuh makna harus dilaksanakan sesuai dengan bakat dan kesanggupan serta dengan tujuan pelajar sendiri dengan prosedur eksperimental yang berlaku.

Kelima, sequence. Belajar sebagai gejala tersendiri dan hendaknya diorganisasikannya dengan tepat berdasarkan prinsip konteks fokalisasi, sosialisasi dan individualisme. Namun demkian, pengajar juga harus memikirkan efektivitas dari serangkaian pelajaran yang disusun secara tepat menurut waktunya. Dalam praktek sequence proses belajar dipandang sebagai suatu pertumbuhan mental. Sebagai akibatnya buku pelajaran, jenis pelajaran, rencana pelajaran, semua diorganisasikan berdasarkan bahwa pelajar mula-mula diperkenalkan kepada unsur-unsur suatu mata pelajaran dan dari bagian-bagian itulah pelajar dibimbing ke arah bagian-bagian yang dianggap penting dan lebih sulit.
Ciri-ciri sequence yang baik yaitu pertumbuhan itu bersifat kontinyu, pertumbuhan tergantung dari tujuan, pertumbuhan tergantung pada munculnya makna, pertumbuhan merupakan perubahan dari penguasaan yang berlangsung menuju kepada kontrol yang jauh, pertumbuhan merupakan perubahan dari yang konkret ke arah yang abstrak, pertumbuhan sebagai suatu gerakan dari yang kasar dan global ke arah yang memperbedakan, dan pertumbuhan merupakan proses transformasi.
Keenam, evaluasi. Dilaksanakan untuk meneliti hasil dan proses belajar peserta didik, untuk mengetahui kesulitan yang melekat pada prose belajar itu. evaluasi tersebut tentu saja tidak bisa dipisahkan dengan proses belajar itu sendiri, maka harus diberikan secara wajar agar tidak merugikan. Usaha belajar yang efektif dan sukses, plus evaluasi yang bermutu dan diskriminatif akan mengena pada semua aspek belajar.

Fungsi Pengajar dalam Mengajar


Demi pemeliharaan dan peningkatan motivasi siswa, DeCecco & Grawford (1974), mengajukan 4 fungsi pengajar, yaitu:
1. Menggairahkan Siswa.
Dalam kegiatan rutin di kelas, pengajar harus berusaha untuk menghindari hal-hal yang bersifat monoton dan membosankan. Pengajar terpaksa harus berfikir dan melakukan banyak hal untuk diberikan kepada siswanya. Pengajar harus berusaha untuk memelihara minat muridnya dalam belajar. biasanya dilakukan dengan memberikan kebebasan tertentu untuk berpindah dari suatu aspek ke aspek pelajaran yang lain dalam situasi belajar.
2. Memberikan Harapan Realistis.
Pengajar harus memelihara harapan-harapan muridnya yang realistis, dan memodifikasikan harapan yang kurang atau tidak realistis. Dalam hal ini, pengajar harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keberhasilan atau kegagalan akademis muridnya pada masa yang lampau. Dengan demikian pengajar dapat membedakan antara harapan yang realistis, pesimistis, atau terlalu optimis.
3. Memberikan Insentif.
Bila seorang murid mendapatkan keberhasilan, pengajar diharapkan memberikan hadiah padanya. Hadiah tersebut dapat berupa pujian, angka yang baik, dan sebagainya. Dengan begitu, mereka dapat terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut. selain itu, umpan balik merupakan hal yang sangat berguna untuk meningkatkan usaha tersebut.
4. Mengarahkan
Pengajar harus mengarahkan tingkah laku muridnya, dengan cara menunjukan pada mereka hal-hal yang dilakukan secara tidak benar dan meminta mereka untuk membenarkannya, dengan memberikan bimbingan.

14 Syarat yang Hendaknya Terpenuhi dalam Mengajar oleh Pengajar

Agar dapat melaksanakan mengajar yang lebih efektif diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:

1. Belajar secara aktif, baik mental maupun fisik. Artinya dalam belajar mereka harus mengalami aktivitas mental, misal kemampuan berfikir kritis, tetapi juga mengalami aktivitas jasmani seperti mengerjakan sesuatu.
2. Menggunakan banyak metode pada waktu mengajar. Variasi metode mengakibatkan penyajian pelajaran yang lebih menarik perhatian, mudah diterima, dan ruang menjadi lebih hidup.
3. Motivasi. Hal ini berpengaruh terhadap kemajuan dan perkembangan mereka selanjutnya, melalui proses belajar. bila motivasi yang diberikan mengenai sasaran, bisa dipastikan mampu meningkatkan kegiatan belajar.
4. kurikulum yang baik dan seimbang. Kurikulum sekolah yang memenuhi tuntutan masyarakat dapat dikatakan bahwa kurikulum tersebut baik dan seimbang. Kurikulum tersebut juga diharapkan mampu mengembangkan segala segi kepribadian, di samping kebutuhan sebagai anggota masyarakat.
5. mempertimbangkan perbedaan individual. Dalam hal ini, tidak hanya cukup merencanakan pengajaran yang klasikal saja, sebab mereka itu terdiri dari berbagai organisme yang bervariasi. Variasi tersebut dapat terlihat dari perbedaan intelegensi, bakat, tingkah laku, sipat dan sebagainya. Maka diperlukan perencanaan secara individual pula, agar dapat mengembangkan kemampuan secara individual.
6. membuat perencanaan sebelum mengajar. Dengan persiapan, akan mampu membuat lebih mantap ketika di depan kelas. Selain itu perencanaan yang matang mampu menimbulkan banyak inisiatif dan daya kreatif waktu mengajar. Terkadang bisa juga meningkatkan interaksi belajar mengajar antara pengajar dengan pelajar.
7. memberi pengaruh sugesti. Sugesti yang baik akan merangsang mereka untuk lebih giat belajar.
8. keberanian mengajar. Ketika berhadapan dengan mereka tidak hanya cukup pintar saja tetapi juga membutuhkan keberanian. Keberanian tersebut membutuhkan kepercayaan diri. Jika demikian akan memperlihatkan kewibawaan pengajar di depan atau di luar sekolah. Kewibawaan tersebut juga akan membuat mereka memperhatikan dan meresapinya.
9. menciptakan suasana yang demokratis. Lingkungan yang saling menghormati mampu mengerti kebutuhan mereka ,bertenggang rasa, memberi kesempatan untuk belajar, berdiskusi, akan mampu mengembangkan kemampuan berfikir, cara memecahkan masalah, kepercayaan pada diri yang kuat, hasyrat ingin tahu, dan usaha menambah pengetahuan atas inisiatif sendiri.
10. memberi masalah yang merangsang untuk berfikir. Rangsangan yang tepat menyebabkan mereka dapat bereaksi dengan tepat terhadap persoalan yang dihadapi.
11. perlunya integrasi. Sehingga mereka memiliki pengetahuan yang terintegrasi, tidak terpisah.
12. menghubungkan bahan pelajaran dengan kehidupan nyata.
13. memberi kebebasan berinteraksi. Sehingga mereka dapat menyelidiki sendiri, mengamati, belajar sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri. Hal tersebut akan menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar terhadap apa yang dikerjakan, dan kepercayaan diri.
14. pengajaran remedial. Banyak faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar. sebab itu perlu meneliti faktor tersebut, agar memberi diagnosa kesulitan belajar dan menganalisa kesulitan tersebut. maka dari itu perlu juga menyusun perencanaan pengajaran remedial.

Mengajar merupakan kegiatan membimbing pelajar untuk mengalami proses belajar. Mengajar yang efektif adalah mengajar yang dapat membawa belajar pelajar tersebut yang lebih efektif. Dalam masalah mengajar seorang pengajar perlu memahami dengan baik tentang prinsip mereka dalam mengajar.

Seiring dengan meningkatkan dunia pendidikan, hal yang harus dilakukan oleh dunia pendidikan tentunya harus mempersiapkan sumber daya manusia yang kreatif, mampu memecahkan persoalan-persoalan yang aktual dan mampu menghasilkan teknologi baru yang merupakan perbaikan dari sebelumnya.

Dalam mengajar, pengajar perlu mempertimbangkan berbagai hal, termasuk syarat dalam mengajar yang efektif. pengajar tidak hanya mengajar, tetapi diharapkan mampu juga membangkitkan semangat belajar muridnya.

Mungkin mengajar yang baik dapat dilaksanakan jika gurun menerapkan prinsip mengajar yang baik pula. Selain itu metode belajar yang efektif juga perlu dikembangkan disamping hal lain, seperti kurikulum atau syarat-syarat mengajar efektif lainnya.

(guidelines:)
Hamalik, Oemar, Metode Belajar Dan Kesulitan-Kesulitan Belajar, Tarsito, Bandung, 1975
The Liang Gie, Cara Belajar Yang Efisien, Gajah Mada Universities Press, Yogyakarta, 1970
Rustiyah N.K., masalah-masalah ilmu keguruan, Bina Aksara, Jakarta, 1982.

Artikel Terbaru:

Apa Pendapat Anda?