Makalah Analisis Industri Untuk Menilai Kinerja Industri


Makalah Analisis Industri Untuk Menilai Kinerja Industri

Analisis Industri merupakan tahap kedua dalam analisis fundamental secara top-down approach. Dalam tahap ini, investor mencoba membandingkan kinerja dari berbagai industri dalam suatu lokasi (negara), untuk mengetahui jenis industri apa saja yang memiliki prospek paling baik juga sebaliknya. Selanjutnya berdasarkan analisis itu, investor bisa menggunakan informasi yang didapatkan sebagai masukan untuk mempertimbangkan saham-saham dari kelompok industri manakah yang paling baik untuk dimasukkan dalam portofolio.

Mengelompokkan suatu industri, realitanya tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Investor perlu menyadari bahwa banyak perusahaan yang bergerak dalam lini bisnis yang berbeda. Untuk mensiasati permasalah tersebut, diperlukan metode yang bisa digunakan untuk mengklasifikasikan industri ke dalam berbagai devisi, yang dikenal dengan sistem Standard Industrial Classification (SIC). Di Indonesia sendiri, standar pengelompokan industri ini dikenal dengan Jakarta Stock Exchange Sectoral Industry Classification (JASICA). Klasifikasi JASICA tersebut terdiri dari 9 divisi, yang kemudian dibagi lagi menjadi kelompok industri utama dan diberi kode 2 digit.

Beberapa penelitian empiris yang dirangkum oleh Reilly dan Brown (1997) menyimpulkan 5 hal penting investor perlu melakukan analisis industri. Pertama: Industri yang berbeda mempunyai tingkat return yang berbeda pula. Karena itu, analisis industri perlu dilakukan untuk mengetahui perbedaan kinerja antar industri. Jika dilakukan, maka investor dapat mengidentifikasi berbagai peluang yang menguntungkan dan yang tidak. Kedua: Tingkat return masing-masing industri berbeda di setiap tahunnya. Oleh karena itu, investor perlu menambahkan data lain yang relevan utuk melakukan estimasi return industri pada masa yang akan datang, disamping menggunakan data return industri. Ketiga: Tingkat return perusahaan-perusahaan pada industri yang sama, terlihat cukup beragam. Maka dari itu, setelah melakukan analisis industri, investor perlu melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu analisis perusahaan. Keempat: Tingkat risiko berbagai industri juga beragam. Sehingga investor perlu mempelajari dan melakukan estimasi faktor-faktor yang relevan untuk suatu industri tertentu seperti halnya estimasi return. Kelima: Tingkat risiko suatu industri relatif stabil sepanjang waktu. Sehingga, analisis risiko berdasarkan data historis dapat digunakan untuk melakukan estimasi risiko industri di masa berikutnya.

Estimasi Tingkat Keuntungan Industri


Menghitung return yang diharapkan dari suatu industri, investor perlu melakukan langkah-langkah seperti mengestimasi earning per share (EPS) dan estimasi price earning ratio (P/E) atau expected earning mutiplier industry. Kedua hasil estimasi ini kemudian dikalikan untuk memperoleh nilai akhir yang diharapkan dari suatu industri. Disisi lain, Investor juga perlu menjumlahkan nilai yang diharapkan dari suatu industri dengan dividen yang diharapkan dari suatu industri, kemudian membaginya dengan nilai awal industri tersebut pada periode sebelumnya. Dengan begitu, investor dapat membandingkan tingkat return yang diharapkan dari suatu industri dengan tingkat return yang disyaratkan oleh investor untuk membuat keputusan. Pilihan terbaik terletak pada industri yang mampu memberikan return yang diharapkan lebih besar dari tingkat return yang disyaratkan oleh investor.

Estimasi Earning Per Share (EPS) Industri


Dalam melakukan estimasi earning per share (EPS), investor dapat menggunakan tiga teknik secara lengkap dan kemudian mengkombinasikannya. Mulai dari tahap perkembangan industri atau daur hidup industri, analisis input-output, sampai hubungan industri dengan lingkungan ekonomi. Sehingga, investor bisa mendapatkan gambaran lengkap pula tentang posisi dan prospek industri dalam sudut pandang yang berbeda. Untuk melakukan estimasi ini investor juga perlu melakukan estimasi penjualan per lembar saham suatu industri terlebih dahulu.

Prakiraan Penjualan dan Daur Hidup Industri

Daur hidup industri atau tahap perkembangan industri adalah teknik pertama yang bisa digunakan untuk melakukan estimasi berapa besar penjualan dari suatu industri. Oleh karena setiap industri memiliki jangka waktu yang berbeda pada masing-masing tahap, Investor perlu mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing tahap dalam daur hidup industri tersebut.

Makalah Analisis Industri Untuk Menilai Kinerja Industri


Dimulai dari tahap permulaan yang merupakan tahap awal perkembangan suatu industri. Tahap ini ditandai dengan pengeluaran perusahaan yang cukup besar untuk biaya pengembangan produk dan biaya promosi. Sedangkan penjualan perusahaan umumnya sedikit, sehingga profit yang dihasilkan cenderung menunjukkan angka negatif.

Pada tahap kedua, yaitu tahap pertumbuhan, penjualan cenderung tumbuh dengan cepat, karena jumlah permintaan yang meningkat pesat dan persaingan juga tidak begitu ketat. Pada masa ini profit akan terlihat sangat tinggi. Pada tahap ini pertumbuhan industri biasanya berada di atas pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Tahap ketiga adalah masa dimana penjualan mulai mengalami penurunan karena banyak kompetitor potensial mulai masuk. Adalah tahap mature (kedewasaan) yang ditandai dengan permintaan yang relatif stabil dan tingkat keuntungan yang normal. Saat itu, pertumbuhan industri hanya sedikit lebih besar dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Pada tahap keempat, pertumbuhan industri cenderung sama dengan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Investor bisa dengan mudah melakukan estimasi pertumbuhan penjualan karena korelasinya akan tinggi dengan kondisi ekonomi. Meskipun sebenarnya, penjualan masing-masing perusahaan dalam industri tersebut memiliki tingkatan yang berbeda. Sebab, penjualan tersebut juga dipengaruhi kemampuan manajerial mereka masing-masing. Tahap stabil ini mungkin akan menjadi tahap yang paling panjang dalam daur hidup industri.

Tahap terakhir adalah tahap penurunan, ketika tingkat penjualan dan profit industri yang semakin lama semakin menurun. Pertumbuhan industri pada tahap ini akan jauh dibawah pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Beberapa perusahaan mulai keluar dari industri, begitupula investor, mereka pun mulai berpikir untuk mencari alternatif lain yang lebih menguntungkan.

Prakiraan Penjualan dan Analisis Input-Output

Selain membuat prakiraan penjualan dan daur hidup industri, anlisis input-output juga bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan gambaran prospek penjualan suatu industri pada masa yang akan datang. Dalam hal ini investor perlu mengidentifikasi supplier (pemasok) dan konsumen dari suatu industri. Sehingga, investor dapat mengestimasi kemampuan pemasok untuk menyediakan barang dan jasa yang diperlukan, juga mengestimasi permintaan konsumen di masa datang. Informasi yang didapatkan akan berguna untuk membuat perkiraan tingkat penjualan dan keuntungan suatu industri di masa berikutnya.

Prakiraan Penjualan dan Hubungan Industri dan Ekonomi

Selanjutnya, investor juga bisa membandingkan tingkat penjualan industri dengan kondisi perekonomian secara keseluruhan yang berhubungan dengan barang dan jasa yang diproduksi oleh industri tersebut. Ini merupakan teknik ketiga untuk mengestimasi Earning per Share (EPS) industri yang mengasumsikan bahwa kondisi perekonomian dimana suatu industri beroperasi berkaitan dengan penjualan dan keuntungan industri tersebut.

Persaingan dan Return Industri yang Diharapkan


Intensitas persaingan dalam industri merupakan salah satu faktor penting lainnya yang bisa mempengaruhi profit yang diperoleh oleh industri. Mengapa intensitas persaingan dalam suatu industri penting?. Intensitas persaingan dalam suatu industri akan menentukan kemampuan industri untuk tetap memperoleh tingkat return di atas rata-rata. Investor dapat mengacu pada tulisan Michael Porter tentang strategi kompetitif, yaitu strategi yang berguna untuk mencapai posisi kompetitif dalam industri. Ia dalam analisisnya mengungkapkan bahwa profitabilitas industri adalah fungsi dari struktur dari industri itu sendiri. Ada lima faktor yang mempengaruhi, dimana kekuatan faktor-faktor tersebut merupakan fungsi dari struktur industri.

Intensitas persaingan merupakan gambaran dari 5 faktor utama persaingan tersebut dan pengaruh masing-masing faktor untuk setiap industri akan berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut juga menentukan profitabilitas industri karena kelima faktor tersebut mempengaruhi komponen return on investment (ROI) dalam suatu industri. Investor perlu melakukan analisis industri untuk menilai kekuatan dari lima faktor ini, sehingga investor dapat menentukan profitabilitas dari suatu industri. Tidak bisa hanya sekali, analisis lingkungan industri harus terus diperbarui sesuai dengan perubahan yang terjadi, sebab struktur industri cenderung berubah-ubah.

Makalah Analisis Industri Untuk Menilai Kinerja Industri


(1) Persaingan antar perusahaan dalam suatu industri akan semakin meningkat apabila terdapat banyak perusahaan berukurannya relatif sama yang bersaing dalam industri tersebut. Pertumbuhan industri, biaya tetap, dan hambatan untuk keluar dari industri juga mempengaruhi persaingan yang ada. Pertumbuhan yang lambat menyebabkan persaingan semakin ketat karena pangsa pasar yang relatif kecil mengharuskan perusahaan-perusahaan untuk bersaing mendapatkannya. Kemudian, biaya tetap yang tinggi juga memaksa perusahaan untuk melakukan produksi dengan kapasitas penuh, sehingga mendorong peningkatan persaingan. Hal itu menyebabkan penawaran yang terjadi di pasar ikut meningkat, sehingga menyebabkan harga barang dan jasa semakin menurun, akibatnya persaingan akan semakin meningkat.

(2) Ancaman pemain baru, juga mempengaruhi intensitas persaingan dalam industri. Investor juga perlu mengidentifikasi perusahaan-perusahaan baru yang memiliki potensi bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang ada dalam industri tersebut. Tingkat ancaman yang dibawa oleh pemain baru ini dipengaruhi oleh hambatan-hambatan masuk (barrier to entry) dalam suatu industri. Misalnya: biaya investasi yang tinggi, peraturan (kebijakan) pemerintah, dan harga barang yang relatif rendah dibandingkan dengan biaya produksinya. Apabila hambatan tersebut tinggi, kemungkinan pemain baru yang potensial masuk ke dalam industri juga semakin kecil.

(3) Produk substitusi, merupakan alternatif bagi produk perusahaan. Produk substitusi ini mengakibatkan profit potensial suatu industri menjadi terbatas. Bila terjadi, kemampuan perusahaan untuk menentukan harga produk akan semakin berkurang, artinya jika perusahaan menetapkan harga terlalu tinggi pada produk mereka, kemungkinan konsumen akan berpindah ke produk substitusi yang ditawarkan oleh pasar.

(4) Bargaining power, daya tawar pembeli di pasar yang juga bisa mempengaruhi profitabilitas industri. Hal ini bisa terjadi apabila konsumen dapat menawar harga atau membuat permintaan akan kualitas produk yang lebih tinggi dengan kemungkinan pilihan dari produk yang diberikan oleh pesaing lain. Bargaining power konsumen akan besar jika konsumennya lebih sedikit dari jumlah industri. Sebaliknya, bargaining power konsumen akan rendah bila jumlah konsumen lebih banyak dari jumlah industrinya.

(5) Bargaining Power pemasok, juga mempengaruhi return industri dimasa yang akan datang apabila mereka mempunyai kekuatan untuk menentukan harga dan kualitas dari produknya. Bargaining power dari pemasok semakin besar, bila jumlah pemasok lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah industri. Sebaliknya, jika jumlah pemasok lebih banyak dari jumlah industrinya, maka bargaining power pemasok berkurang.

Estimasi Earning Multiplier Suatu Industri


Setelah melakukan analisis faktor yang mempengaruhi intensitas persaingan industri, Selanjutnya, investor perlu melakukan estimasi earning multiplier industri dengan menggunakan 2 teknik, yaitu analisis makro dan analisis mikro. Analisis makro dilakukan untuk mempelajari hubungan antara earning multiplier untuk industri dengan earning multiplier pasar. Analisis makro mengasumsikan adanya hubungan antara perubahan dalam tingkat return yang diisyaratkan dalam industri (k) dengan tingkat pertumbuhan earning dan dividen industri yang diharapkan (g) untuk industri tertentu dalam pasar secara keseluruhan.

Asumsi ini sama halnya dengan hubungan antara perubahan dalam price earning ratio (P/E) industri dengan price earning ratio (P/E) pasar. Dalam melakukan analisis ini, investor terlebih dahulu perlu mengevaluasi kualitas hubungan antara rasio P/E industri yang akan dianalisis dengan P/E pasar. Penyebabnya, hubungan antara industri dengan pasar tidak sama untuk setiap industri. Mungkin saja, suatu industri tertentu hubungan tersebut tidak signifikan. Oleh karena, investor perlu menggunakan makro untuk mengestimasi earning multiplier untuk industri.

Selain menggunakan analisis makro, investor juga perlu melakukan analisis mikro untuk estimasi earning multiplier dengan cara mengamati variabel-variabel yang mempengaruhi earning multiplier industri seperti: dividen-payout ratio (DPR), tingkat return yang diisyaratkan dalam industri (k), dan tingkat pertumbuhan earning dan dividen industri yang diharapkan. Investor perlu membandingkan ketiga variabel tersebut dengan price earning ratio pasar. Dari analisis tersebut, akan diketahui apakah earning multiplier industri akan berada di atas atau di bawah atau sama dengan earning multiplier. Informasi tersebut akan berguna untuk membantu membuat keputusan, sehingga investor dapat melanjutkan kepada analisis berikutnya.


Salah satu sistem klasifikasi yang telah dikenal dan digunakan secara luas adalah sistem standard industrial classifications (SIC) yang didasarkan pada data sensus dan pengklasifikasian perusahaan berdasarkan produk dasar yang dihasilkan. Standard industrial classification (SIC) mempunyai 11 divisi dan masing-masing divisi diberi tanda A sampai K.

misalnya: pertanian, perkebunan, perikanan dikelompokan dalam divisi A, Pertambangan dalam divisi B, perdagangan eceran dalam divisi G, dan kelompok terakhir yaitu yang belum terklasifikasi disebut dengan divisi K. Masing-masing divisi akan terdiri dari beberapa kelompok industri utama dan diber kode 2 digit. Contoh: industri logam yang termasuk dalam divisi D yaitu pertambangan, diberi kode 33. Kelompok industri utama pada masing-masing divisi dalam SIC akan dibagi lagi dalam tiga, empat sampai 5 digit kode SIC. Semakin banyak jumlah digit kode maka semakin spesifik pengelompokkan industri tersebut.

Selain standar klasifikasi SIC, adapula sistem pengelompokkan lain yang juga digunakan untuk mengelompokkan industri, diantaranya: indeks industri yang dikeluarkan oleh Standard & Poor Corporation yang mengelompokkan industri dalam 113 kelompok, dan klasifikasi industri versi Value Line yang mengklasifikasikan perusahaan ke dalam 90 industri.
Klasifikasi industri di Indonesia juga dilakukan berdasarkan standar klasifikasi industri tertentu. Salah satu standar yang banyak dipakai untuk mengelompokkan industri bagi perusahaan-perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) adalah Jakarta Stock Exchange Sectoral Industry Classification (JASICA). Klasifikasi JASICA ini terdiri dari 9 divisi dan masing-masing divisi tersebut dibagi lagi menjadi kelompok industri utama dan diberi kode 2 digit.


Klasifikasi Industri di Indonesia

1. Pertanian:
1.1. Pertanian
1.2. Perkebunan
1.3. Peternakan
1.4. Perikanan
1.5. Kehutanan
1.6. Lain-lain yang belum terklasifikasi

2. Pertambangan:
2.1. Pertambangan batu bara
2.2. Pertambangan minyak dan gas bumi
2.3. Pertambangan logam dan mineral lainnya
2.4. Pengalian batu atau tanah
2.5 Lain-lain yang belum terklasifikasi

3. Industri Dasar dan Kimia:
3.1. Semen
3.2. Keramik, gelas, porselen
3.3. Produk logam dan sejenisnya
3.4. Kimia
3.5. Plastik
3.6. Pakan ternak
3.7. Industri kayu dan pengolahannya
3.8. Pulp dan kertas
3.9. Lain-lain yang belum terklasifikasi

4. Aneka Industri:
4.1. Mesin dan alat berat
4.2. Otomotif dan komponennya
4.3. Tekstil dan garmen
4.4. Alas kaki
4.5. Kabel
4.6. Elektronik
4.7. Lain-lain yang belum terklasifikasi

5. Industri Barang Konsumsi:
5.1. Makanan dan minuman
5.2. Industri tembakau
5.3. Farmasi
5.4. Kosmetik dan barang keperluan rumah tangga
5.5. Lain-lain yang belum terklasifikasi

6. Konstruksi, Properti dan Real Estat
6.1. Konstruksi
6.2. Properti dan real estat
6.3. Lain-lain yang belum terklasifikasi

7. Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi
7.1. Energi
7.2. Jalan tol, bandara, pelabuhan, dan sejenisnya
7.3. Telekomunikasi
7.4. Transportasi
7.5. Lain-lain yang belum terklasifikasi

8. Keuangan:
8.1. Bank
8.2. Lembaga pembiayaan
8.3. Perusahaan efek
8.4. Asuransi
8.5. Reksadana
8.6. Lain-lain yang belum terklasifikasi

9. Perdagagan dan Jasa
9.1. Perdagangan besar barang industri
9.2. Perdagangan besar barang konsumsi
9.3. Perdagangan eceran
9.4. Hotel dan restoran
9.5. Pariwisata dan hiburan
9.6. Periklanan dan media massa
9.7. Jasa komputer dan perangkatnya
9.8. Lain-lain yang belum terklasifikasi


Artikel Terbaru: