Upaya Meningkatkan Kreativitas Berdasarkan Tipe Kecerdasan Kreatif


Upaya Meningkatkatkan Kreativitas Berdasarkan Tipe-nya
image: Pexels.com

Alan J. Rowe dalam bukunya “Creative Intelligence” menyatakan bahwa setiap orang memiliki kecerdasan kreatif, namun pada tipe yang berbeda-beda. Rowe membagi kecerdasan kreatif dalam empat tipe, yaitu:

1. Intuitif
Tipe kreativitas intuitif banyak dimiliki oleh pakar manajer, aktor dan politikus. Orang-orang yang memiliki kreativitas intuitif biasanya berfokus pada hasil dan menggunakan pengalaman masa lalu dalam memunculkan gagasan-gagasan.

2. Inovatif
Tipe kreativitas inovatif dimiliki oleh ilmuwan, insinyur, dan penemu. Orang-orang biasanya menekankan pada daya cipta eskperimen dan sistematika.

3. Imajinatif
Tipe kreativitas imajinatif banyak ditemui pada seniman, musikus dan penulis. Orang-orang tipe ini biasanya banyak mengambil resiko dengan melewati batas-batas kebiasaan dan tradisi. Mereka lebih berpikiran terbuka humoris.

4. Inspiratif
Tipe kreativitas inspiratif banyak ditemui pada pendidik, penceramah, dan penulis. Orang-orang tipe ini biasanya memiliki sudut pandang yang positif, mampu membaca kebutuhan orang lain dan menggerakan perubahan.

Upaya Peningkatan Kreativitas:

Rowe juga mengatakan bahwa setiap orang dengan tipe kreativitas berlainan akan merespon masalah dengan cara berbeda pula. Oleh karena itu, Rowe menganjurkan upaya peningkatan kreativitas:

1. Mengenal potensi kecerdasan kreatif kita terlebih dahulu sebelum kita meningkatkan kecerdasan kreatif kita.

2. Terus membuka pikiran kita terhadap setiap gagasan-gagasan baru. Penjelajahan pikiran memungkinkan kita untuk mendapatkan banyak gagasan-gagasan baru. Cara terbaik untuk mendapatkan gagasan cemerlang adalah dengan mengumpulkan banyak gagasan.

3. Terbiasa keluar dari kebiasaan dan tradisi agar senantiasa menemukan hal-hal baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kemapanan dalam cara berpikir dan bersikap akan menyebabkan kebekuan kreativitas. Oleh karena itu, kita harus berusaha mendobrak dan keluar dari zona nyaman.

4. Senantiasa menambah wawasan. Proses kreatif bergantung pada wawasan pengetahuan dan pengalaman kita. Jika wawasan kita luas, maka kemungkinan gagasan-gagasan kreatif yang muncul akan lebih banyak. Jika tidak, makan akan terjadi sebaliknya.

5. Selalu menggunakan imajinasi. Otak manusia senang menemukan pola, yaitu menghubungkan satu hal dengan hal lain yang berbeda untuk menemukan makna. Pada saat itulah diperlukan imajinasi agar segala sesuatu terlihat menarik dan menakjubkan.

6. Melakukan relaksasi sesering mungkin dan mengisi sumber-sumber inspirasi kita. Kejenuhan akan membuat kebekuan. Oleh karena itu, relaksasi membuat kita agar segar kembali. Perasaan yang tenang, senang, dan gembira dapat mempermudah munculnya gagasan-gagasan cemerlang baru.

7. Daniel Goleman dalam “The Creative Spirit” menganjurkan kita untuk juga menciptakan komunitas kreatif. Sebab manusia saling bergantung satu dengan yang lain. Komunitas juga dapat mendorong kita agar lebih kreatif lagi dalam kehidupan ini.

Memunculkan Kreativitas dalam Pembelajaran

Kreativitas juga diperlukan dalam proses belajar. Berpikir kreatif akan mempermudah manusia untuk menyerap dan menyimpan informasi yang didapatkan dalam proses belajar itu sendiri. Hal ini juga mendorong untuk memahami masalah dengan cepat dan menemukan gagasan-gagasan yang bersifat solutif dengan cara yang tepat. Banyak metode pembelajaran yang menerapkan berpikir kreatif dalam proses belajar.

Untuk mencapai keberhasilan perlu pembelajaran dan pelatihan intensif bagaimana menggunakan kekuatan bawah sadar tersebut, dengan mengaktifkan “Nur Ilahi” untuk mendapatkan imajinasi yang kuat, agar kreativitas selalu muncul saat dibutuhkan, membangun prestasi dan citra yang membanggakan. SDM sebagai pelaksana suatu profesi dengan tingkat kecerdasan kreativitas (CQ) yang tinggi, adalah mereka yang kreatif, mampu mencari dan menciptakan terobosan-terobosan dalam membatasi berbagai kendala atau permasalahan yang muncul dalam lembaga-lembaga profesi yang mereka geluti. Seorang pelaksana profesi yang ingin mencapai nilai-nilai profesional, haruslah mempunyai CQ yang tinggi, yaitu mampu menghasilkan ide-ide baru (orisinil) dalam meningkatkan daya saing dalam dunia kerjanya dan lebih luas lagi daya saing di era globalisasi. Seorang pelaksana profesi haruslah bersikap fleksibilitas, komunikatif dan aspiratif, serta tidak dapat diam, selalu menginginkan perubahan-perubahan kearah kehidupan yang lebih baik, reformatif dan tidak statis.

Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater, mengemukakan bahwa SDM dengan CQ yang tinggi mampu merubah bentuk yaitu:
1. Dari suatu ancaman (Threat) menjadi tantangan (Challenge).
2. Dari Tantangan menjadi Peluang (Opportunity).
Daya kreativitas tipe ini dapat membangkitkan semangat, percaya diri (Self Confidence) dan optimisme masyarakat dan bangsa untuk menghadapi masa depan yang lebih baik, daya kreativitasnya bersifat rasional, tidak sekedar angan-angan belaka (Wish Full Thinking), dan dapat ti aplikasi serta diimplementasikan.



Sumber referensi:
  • Rowe, Alan J. 2004. Creative Intelligence: Membangkitkan Inovasi Dalam Diri dan Organisasi Anda. Bandung: Kaifa.
  • Goleman, Daniel. 2005, “The Creative Spirit : Nyalakan Jiwa Kreatifmu di sekolah, tempat Kerja, dan Komunitas”, Penerjemah Yuliani Liputo, Cetakan I, Juni, MLC, Bandung.

Latest Articles Published:

Apa Pendapat Anda?