Analisis Perubahan Variabel-Variabel Ekonomi Makro Terhadap Harga Saham


Analisis Perubahan Variabel-Variabel Ekonomi Makro Terhadap Harga Saham

Langkah pertama ketika hendak melakukan analisis ekonomi adalah dengan mengamati indikator-indikator ekonomi makro, akan membantu investor dalam meramalkan perubahan apa yang akan terjadi pada pasar modal. Misalnya, meramalkan tingkat suku bunga. Apabila suku bunga meningkat, maka investor perlu membuat keputusan menjual, karena harga saham dan obligasi cenderung mengalami penurunan. Sehingga kemampuan seperti meramal perubahan variabel-variabel ekonomi makro juga sangat membantu investor dalam membuat keputusan investasi yang tepat.

Ekonomi makro memiliki beberapa variabel yang berpengaruh terhadap kinerja dan prospek perusahaan. Diantaranya, variabel-variabel paling umum adalah Produk Domestik Bruto (PDB), Inflasi, Tingkat bunga, dan Investasi swasta.

1. Produk Domestik Bruto (PDB)

PDB yang meningkat akan menjadi sinyal yang baik (positif) bagi investasi di pasar modal. Begitupula sebaliknya, apabila PDB menurun, makan akan menyebabkan penurunan investasi pada pasar modal. Itu berarti, PDB berhubungan searah (positif) terhadap Investasi Pasar Modal. Mengapa demikian?. Peningkatan PDB mempunyai pengaruh positif terhadap daya beli konsumen, sehingga meningkatkan permintaan terhadap produk perusahaan.

2. Inflasi

Inflasi berhubungan terbaik (negatif) terhadap investasi pada pasar modal. Meningkatnya inflasi secara relatif akan menjadi sinyal negatif bagi pemodal dalam pasar modal. Inflasi memang dapat meningkatkan pendapatan dan biaya perusahaan, tetapi jika peningkatan biaya produksi lebih tinggi dari peningkatan harga yang dapat dinikmati oleh perusahaan, maka tetap saja profitabilitas perusahaan akan turun.

3. Tingkat Bunga

Tingkat bunga berhubungan terbalik (negatif) terhadap harga saham. Tingkat suku bunga yang meningkat akan menyebabkan peningkatan suku bunga yang diisyaratkan atas investasi pada suatu saham. Selain itu, tingkat suku bunga yang meningkat bisa juga menyebabkan investor menarik investasinya pada saham, lalu memindahkannya pada investasi berupa tabungan ataupun deposito.

4. Investasi Swasta

Investasi swasta berhubungan searah (positif) dengan Investasi pada pasar modal. Artinya, Meningkatnya investasi swasta menyebabkan meningkatnya investasi pada pasar modal. Alasannya, ketika investasi swasta meningkat, PDB juga akan meningkat, maka pendapatan konsumen (penduduk) juga ikut meningkat. Apabila pendapatan konsumen meningkat, umumnya permintaan akan produk perusahaan juga ikut meningkat.

5. Kurs Rupiah (Mata Uang)

Kurs Rupiah berhubungan searah (positif) terhadap pasar modal dalam negeri. Apabila Kurs Rupiah menguat terhadap mata uang asing, maka itu akan menjadi sinyal yang baik (positif) bagi perekonomian yang sedang mengalami inflasi. Itu berarti, kenaikan kurs Rupiah dapat memberikan efek yang bagus bagi pemodal dalam pasar modal. Hal ini terjadi karena menguatnya kurs Rupiah bisa menurunkan biaya impor bahan baku produksi, dan juga menurunkan tingkat suku bunga yang berlaku.

6. Anggaran Defisit

Anggaran defisit cenderung menjadi sinyal positif bagi ekonomi yang sedang mengalami resesi. Namun disisi lain, anggaran defisit hanya akan menjadi kabar buruk bagi ekonomi yang sedang mengalami inflasi. Dalam hal ini, anggara defisit akan mendorong konsumsi dan investasi pemerintah, sehingga dapat meningkatkan permintaan terhadap produk perusahaan. Tetapi dibalik semua itu, justru akan meningkatkan jumlah uang yang beredar dan akibatnya akan mendorong perkembangan inflasi.

7. Neraca Perdagangan dan Pembayaran

Neraca perdagangan dan pembayaran dapat menjadi sinyal negatif bagi dunia investasi. Defisit neraca perdagangan dan pembayaran harus dibiayai dengan menarik modal asing. Agar hal itu terjadi, pemerintah harus menaikan suku bunga. Apabila suku bunga naik, investor cenderung menarik dana mereka di saham kemudian memindahkannya ke deposito atau tabungan.

Latest Articles Published:

Apa Pendapat Anda?