Kendala Yang Dihadapi Pengusaha Muda Dalam Mengembangkan Bisnis Baru


Kendala Yang Dihadapi Pengusaha Muda Dalam Mengembangkan Bisnis Baru
Designed by Photoduet/Freepik

Mempertahankan eksistensi dan mengembangkan bisnis bukanlah persoalan mudah untuk dilakukan. Bila mudah, sudah pasti semua orang akan menjadi pengusaha yang sukses, lalu siapa yang akan menjadi pekerjaannya. Strategi yang matang harus dipersiapkan untuk membuat usaha lebih maju dari sebelumnya. Banyak pelaku bisnis kurang mencermati hal ini, sehingga yang terjadi adalah kerugian hingga akhirnya usaha tersebut gulung tikar.

Namun, jika dipelajari dengan benar, hal ini tidak akan menjadi masalah yang berat untuk dihadapi. Bahkan akan menjadi sebuah tantangan yang pada akhirnya bisa menumbuhkan ide-ide kreatif tersendiri. Terlepas dari tantang yang ada maka ada berbagai hambatan dalam mengembangkan bisnis. Hambatan-hambatan tersebut secara umum adalah:

1. Dana atau Modal Usaha

Faktor dana atau modal merupakan faktor utama yang diperlukan untuk mengembangkan suatu unit usaha. Kurangnya permodalan UKM, oleh karena pada umumnya usaha kecil dan menengah merupakan usaha perorangan atau perusahaan yang sifatnya tertutup, yang mengandalkan modal dari pemilik yang jumlahnya sangat terbatas, sedangkan modal pinjaman dari lembaga keuangan seperti Bank sulit diperoleh karena persyaratan secara administratif dan teknis yang diminta tidak terpenuhi.

2. Pemasaran Produk

Kesulitan dalam memasarkan produk mengacu pada penjualan yang tidak efektif dan efisien sehingga mengakibatkan persediaan produk di gudang menjadi menumpuk atau over produk, hal ini akan menciptakan biaya persediaan meningkat dan pemasukan perusahaan menjadi berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Bargaining Power pengusaha kelas bawah dalam menghadapi pengusaha kelas atas selalu lemah, terutama yang berkaitan dengan penentuan harga dan sistem pembayaran, serta pengaturan tata letak produk di department store dan supermarket. Terkadang, persaingan tidak sehat juga menjadi penyebab hal ini bisa terjadi.

Minimnya informasi untuk memasarkan produk di dalam maupun di luar negeri adalah masalah utama yang cukup serius bagi pengusaha kelas bawah. Misalnya tentang produk apa yang diinginkan pembeli, siapa yang membeli, dimana pasar yang paling berpotensi, bagaimana cara memasarkan produk, dan tender pekerjaan utamanya pada usaha jasa.

3. Persaingan

Persaingan usaha yang semakin ketat mendesak para pengusaha bersaing dengan pungasaha lain yang terkadang jauh lebih baik dari pengusaha lainnya. Hal ini jika tidak diantisipasi maka pengusaha yang kalah bersaing akan mengalami kegagalan produk.

4. Bahan Baku

Kesulitan dalam bahan baku adalah faktor yang sangat vital dalam proses pengembangan bisnis. Jika ada bahan baku maka perusahaan akan tidak bisa melakukan kegiatan produksi. Rantai bahan baku kurang memadai dan berfluktuasi antara lain disebabkan oleh adanya kebijakan ekspor dan impor yang berubah-ubah, pembeli besar yang menguasai bahan baku, keengganan pengusaha besar untuk membuat kontrak dengan pengusaha kecil.

Selain itu bahan baku masih terlalu tinggi dan berfluktuasi karena struktur pasar bersifat monopolistik atau dikuasai pengusaha pasar. Kualitas bahan baku rendah, antara lain karena adanya standarisasi dan manipulasi kualitas bahan baku. Sistem pembelian bahan baku secara tunai menyulitkan pengusaha kecil, sementara pembayaran penjualan produk umumnya tidak tunai.

5. Keahlian teknis dan tenaga ahli

Seorang pengusaha membutuhkan tim kerja dan spesialisasi untuk mengembangkan perusahaannya. Untuk itu, pengusaha tersebut harus terus berinvestasi pada manusia dalam mengembangkan perusahaannya.

6. Teknologi

Tenaga kerja terampil sulit diperoleh dan dipertahankan karena lembaga pendidikan dan pelatihan kurang mampu menghasilkan tenaga terampil yang sesuai dengan kebutuhan pengusaha kecil. Akses dan informasi sumber teknologi masih kurang dan tidak merata, sedangkan upaya penyebarluasan masih kurang gencar. Spesifikasi peralatan yang sesuai dengan kebutuhan (teknologi tepat guna) sukar diperoleh. Lembangga independen belum ada dan belum berperan, khususnya lembaga yang mengkaji teknologi yang ditawarkan oleh pasar kepada pengusaha kecil, sehingga teknologi ini tidak dapat dimanfaatkan secara optimum.

Peran instansi pemerintahan, non pemerintahan dan perguruan tinggi dalam mengidentifikasi, menemukan, menyebarluaskan dan melakukan pembinaan teknis tentang teknologi baru atau teknologi tepat guna bagi pengusaha kecil masih kurang intensif.

9. Manajemen

Pola manajemen yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan usaha sulit ditemukan, antara lain karena pengetahuan dan manajerial skill pengusaha kecil relatif rendah. Akibatnya pengusaha kecil belum mampu menyusun strategi bisnis yang tepat. Pemisahan antara manajemen keuangan perusahaan dan keluarga atau rumah tangga belum dilakukan, sehingga pengusaha kecil mengalami kesulitan dalam mengontrol atau mengatur cash flow, serta dalam membuat perencanaan dan laporan keuangan.

10. Birokrasi

Perizinan tidak transparan, mahal, berbelit-belit, diskriminatif, lama dan tidak pasti, serta terjadi tumpang tindih vertikal antara pusat dan daerah, horizontal antara instansi daerah. Penegakan dan pelaksanaan hukum dan berbagai ketentuan masih kurang serta cenderung kurang tegas. Pengusaha kecil dan asosiasi usaha kecil kurang dilibatkan dalam perumusan kebijakan tentang usaha kecil. Pungutan atau biaya tambahan dalam pengurusan perolehan modal dari dana penyisihan laba BUMN dan sumber modal lainnya yang cukup tinggi. Mekanisme pembagian kuota ekspor tidak mendukung usaha kecil untuk mampu mengekspor produknya. Banyaknya pungutan seringkali tidak disertai dengan pelayanan yang memadai.

11. Infrastruktur

Listrik, air dan telepon bertarif mahal dan seringkali menghadapi gangguan disamping pelayanan petugas yang kurang baik. Kurangnya prasarana yang memadai seperti jalan, listrik, telepon, air, serta fasilitas penanganan limbah dan gangguan.

12. Kemitraan

Kemitraan antara usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar dalam pemasaran dan sistem pembayaran, baik produk maupun bahan baku dirasakan belum bermanfaat. Hubungan kemitraan tersebut dalam transfer teknologi masih kurang baik.

13. Pengembangan Produk

Banyak pebisnis pemula salah dalam menentukan bisnis yang akan ditekuni. Kebanyakan kegagalan pengusaha adalah membuat produk yang tidak dibutuhkan masyarakat. Maka penting sekiranya mendapatkan saran agar membuat produk “demand driven” yaitu produk-produk yang dibutuhkan masyarakat.

14. Memetakan Kompetisi

Calon pengusaha untuk melakukan riset S.W.O.T (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dan terus mengawasi para pesaing. Penyusunan rencana sangat penting bila kompetisi terus terjadi. Seperti Perusahaan Kodak yang merupakan penemu foto digital pertama dan kuat di fotografi. Namun karena mereka kuat menjadi tidak waspada sehingga dilewati oleh kompetitor dan akhirnya mereka gulung tikar.

15. Permintaan

Pelanggan adalah raja. untuk itu pengusaha harus menentukan siapa yang akan menjadi prioritas atas produk yang dijual. Penentuan segmentasi ini unutk mengetahui karakteristik pelanggan.

16. Pricing

Penentuan harga merupakan hal yang paling sulit untuk ditentukan oleh pengusaha yang baru terjun dalam dunia bisnis. Harga yang telah ditentukan harus dapat berubah menyesuaikan situasi ekonomi, atau berinovasi dengan menciptakan produk baru yang terjangkau. Seperti Unilever yang juga menciptakan kemasan sachet, sehingga konsumen kelas bawah juga bisa membelinya.

17. Siklus Penjualan

Pengusaha pemula harus memperhatikan siklus penjualan produknya, apakah tahan lama atau tidak. Pengusaha juga harus memperhatikan lamanya produk tersebut di pasaran dengan terus berinovasi mengeluarkan produk baru. Setiap beberapa bulan sekali rilis produk baru, sehingga para pesaing tidak dapat mengejar inovasi yang dilakukan.

18. Stok

Dalam usaha perdagangan eceran atau grosir jika membeli stok yang lokasinya jauh dari tempat usaha sering terjadi keterlambatan dan membuat stok kurang lengkap dan dapat menghambat pemasukan.

19. Biaya Awal

Biaya awal yang tinggi adalah biaya untuk operasional dan perputaran awal bisa diartikan belum ada strategi keuangan dalam pengertian improvisasi anggaran dan belanja.

20. Perbedaan Pendapat Antar Pengelola Usaha

Sering terjadi pada perusahaan yang dikelola dan dipimpin oleh beberapa orang terjadi perbedaan pandangan dalam membuat fungsi dan hak dalam menjalankan roda usaha. Sehingga perbedaan keputusan yang tidak menghasilkan keputusan utama yang akhirnya menyebabkan usaha tersebut berhenti.

Latest Articles Published:

Apa Pendapat Anda?